Friday, January 13, 2017

Pancasila, Bhineka, Al Qur'an dan Hadits

Sila Pertama: 
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu." (QS. Al Ikhlas: 1-2)
“… Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa…” (QS. Al Maidah: 73)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya…

Sila Kedua: 
Point Kemanusiaan: 
“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Adh Dhuha: 9-10)
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, ‘Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 215)
“Katakan, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu atasmu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan jangan kamu mendekati perbuatan keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya (membunuhnya) kecuali dengan sebab yang benar. Demikianlah Dia telah mewasiatkan kepadamu mengenai hal itu supaya kamu memahami.” (QS. Al An’am: 151)
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al Insan: 8-9)
“Ialah, orang-orang yang membelanjakan (menyedekahkan) harta di waktu lapang dan di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan yang memaafkan (kesalahan) manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
“…Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuatlah kebaikan terhadap ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata baik kepada manusia…” (QS. Al Baqarah: 83)
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al Maidah: 2)
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu.” (QS. Al Baqarah: 220)
Iyadh bin Himar Al Mujasyi’I Radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penghuni surga itu ada tiga: pemilik kekuasaan yang sederhana, derma dan penolong; seorang yang berbelas kasih, berhati lunak pada sanak kerabat; dan orang Muslim yang sangat menjaga diri meski memiliki tanggungan.” (HR. Muslim no. 5109)
Dan masih banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya…

Sila Kedua: 
Point Adil: 
“Katakanlah: ‘Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan…" (QS. Al A’raf: 29)
“…Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al Maidah: 42)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An Nisa: 135)
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran." (QS. An Nahl: 90)
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil ,di mata Allah berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Ar-Rahman Azza wa Jalla. Yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka.” (HR. Nasai no. 5284, Ahmad no. 6204 dan Muslim no. 3406)
Dan masih banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya…

Sila Kedua: 
Point Beradab: 
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al Isra’: 23-24)
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, ’Kembalilah!’ Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An Nur: 27-28)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan…” (QS. Al Hujurat: 11)
”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a ‘Ya Rabb-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al Ahqaf: 15)
Dari Salman al-Farisi Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu hingga diajarkan pula adab buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu 'anhu menjawab, ‘Ya!” (HR. Muslim no. 385, Abu Dawud no. 6, Tirmidzi no. 16, Nasai no. 41, Ahmad no. 22604 dan Ibnu Majah no. 316)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya dan bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan adab-adab dalam kegiatan sehari-hari (adab berkaitan tidur, makan, minum, kentut, bersin, menguap, buang air kecil, (maaf) buang air besar, belajar/mencari ilmu, berdagang, bekerja, bertamu, menerima tamu, menengok orang sakit, mengunjungi kerabat yang berduka, mandi, bertetangga, memimpin, berperang, adab ketika dijalan, dan banyak lagi) dalam banyak hadits.

Sila Ketiga: 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat: 10)
“Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah (damai) di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 224)
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba orang yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang teman yang setia.” (QS. Fushshilat: 34)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya…

Sila Keempat: 
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka, dan mereka menafkahkan (sedekah) sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy Syura: 38)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu…” (QS. Al Mujadilah: 11)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya…

Sila Kelima: 
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. An Nisa: 58)
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.“ (QS. Al Maa’uun: 1-3)
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. “ (QS. Adz Dzariyat: 19)
“Dan, apabila hadir pada waktu pembagian warisan itu kaum kerabat yang lain dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berikanlah kepada mereka sesuatu darinya, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An Nisa: 8)
"…Yang sebenarnya kebaikan ialah yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian dan malaikat-malaikat dan kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta atas kecintaan kepada-Nya kepada kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan orang musafir (yang memerlukan pertolongan), dan mereka yang meminta sedekah dan untuk memerdekakan hamba sahaya… (QS. Al Baqarah: 177)
“…Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan teman sejawat, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir…” (QS. An Nisa: 36-37)
‘Aidz bin Amru Radhiyallahu ‘anhu, ketika ia masuk kepada ‘Ubaidillah bin Ziyad berkata; Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk penguasa adalah yang berlaku zhalim (kejam), maka janganlah kamu tergolong daripada mereka.” (HR. Ahmad no. 19719 dan Muslim no. 3411)
Amr bin Murrah berkata kepada Mu'awiyah; Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang pemimpin yang menutup pintu rumahnya karena tidak mau melayani orang yang memerlukan, fakir miskin dan sangat membutuhkan, kecuali Allah akan menutup pintu langit karena kefakiran, kesulitan dan kemiskinannya." (HR. Tirmidzi no. 1253, Ahmad 1734)
Dan masih banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya…

Kebhinekaan: 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar Ruum: 22)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya…

Thursday, November 10, 2016

Surat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Dari Abu Sufyan, ia berkata, pada saat berlangsungnya perjanjian damai antara aku dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku pergi berniaga ke negeri Syam. Ketika aku berada di sana, ada seseorang yang mengirim sepucuk surat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kaisar Heraclius, penguasa Rumawi, yang membawa surat itu adalah Dihyah Al Kalbi kepada pembesar Bushra, kemudian pembesar Bushra menyampaikannya kepada Heraclius.
Heraclius lantas bertanya, "Siapakah di antara kalian, yang dekat pertalian darahnya dengan orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi itu?"
Abu Sufyan berkata, "Lalu aku menjawab, "Aku." Lalu aku dipanggil untuk menghadap Heraclius bersama beberapa kawanku dari suku Quraisy, kami masuk dan duduk menghadap Heraclius. Lalu aku duduk di depan, sedangkan kawan-kawanku duduk di belakangku.

Kemudian dia memanggil penerjemahnya, lalu dia berkata kepada penerjemahnya, "Katakanlah kepada kawan-kawannya, bahwa aku menanyakan kepadanya perihal laki-laki yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi, jika dia berdusta, katakan dia telah berdusta."
Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, kalaulah aku tidak takut dicap sebagai pendusta, sungguh akan ku dustai mereka."
Kemudian Heraclius berkata kepada penerjemahnya, tanyakan kepadanya, "Apa hubunganmu dengannya?". Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; "Dia adalah anak pamanku."
Abu Suyfan berkata, "Tidak ada seorang pun yang ikut dalam kafilah saat itu, yang berasal dari Bani Abdu Manaf selain diriku."
Kemudian Heraclius bertanya, "Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian." Abu Sufyan berkata, "Jawabku, "Dia adalah orang yang mulia nasabnya (dari keturunan baik-baik)."
Dia bertanya, "Apakah dia keturunan raja?". Aku menjawab, "Tidak."
Dia bertanya, "Pernahkah kalian mendapatinya berdusta sebelum dia menyampaikan bahwa ia seorang Nabi?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apakah orang-orang yang mengikutinya dari kalangan pembesar ataukah hanya rakyat kecil?". Jawabku, "Bahkan yang mengikutinya hanya rakyat kecil."
Dia bertanya, "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?". Jawabku, "Mereka selalu bertambah."
Dia bertanya, "Adakah ada pengikutnya yang murtad karena benci terhadap agama yang dikembangkannya?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apakah kalian memeranginya?". Jawabku, "Ya."
Dia bertanya, "Bagaimana kesudahan peperanganmu terhadapnya?". Jawabku, "Peperangan kami berjalan silih berganti antara menang dan kalah. Kadang-kadang kamilah yang menang dan dia yang kalah, dan terkadang pula kami yang kalah dan dia yang menang."
Dia bertanya, "Apakah dia pernah ingkar janji?". Jawabku, "Tidak pernah, ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu, bahkan kami sedang dalam masa perjanjian damai, yaitu tidak akan serang menyerang dengannya. Aku tidak tahu apa yang akan dibuatnya terhadap perjanjian tersebut."
Kata Abu Sufyan selanjutnya, "Demi Allah, aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini."
Dia bertanya lagi, "Apakah ada orang lain sebelum dia, yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi seperti dia?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?". Aku jawab, "Dia menyuruh kami 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kalian.' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan, menepati janji, menunaikan amanah, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim".

Kemudian dia berkata kepada penerjemahnya, "Katakan kepadanya, "Kutanyakan kepadamu tentang nasabnya (status sosialnya), maka kalian katakan dia termasuk dari bangsawan. Memang demikianlah halnya para Rasul, mereka diutus (dari keluarga) yang mempunyai nasab luhur di antara kaumnya. Kutanyakan pula kepadamu, apakah dia dari keturunan para raja? Jawabmu 'tidak', kalau sekiranya bapak dan kakeknya dari keturunan raja, tentu ada sangkaan orang ini hanya ingin mengembalikan kekuasaan nenek moyangnya. Kutanyakan pula tentang pengikutnya, apakah terdiri dari rakyat kecil atau dari orang-orang besar? Kamu menjawab 'hanya terdiri dari rakyat kecil', memang merekalah pengikut para Rasul. Aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak, sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Aku tanyakan kepadamu, adakah pengikutnya yang murtad atau mereka membenci agama baru setelah memeluknya? Jawabmu 'tidak', memang begitulah halnya apabila iman telah tertanam dalam hati seseorang. Aku bertanya kepadamu, apakah pengikutnya berkurang? Jawabmu 'bahkan mereka selalu bertambah', memang seperti itulah iman hingga ia tumbuh sempurna. Kutanya pula, apakah kamu memeranginya? Jawabmu 'ya kami memerangi, dan peperangan silih berganti, terkadang menang dan terkadang kalah'. Memang demikianlah halnya, para Rasul itu selalu mendapati berbagai ujian, namun demikian, kemenangan terakhir selalu dipihak mereka. Kutanyakan pula, pernahkah dia ingkar janji? Jawabmu 'tidak pernah', memang demikian para Rasul tidak mungkin ingkar janji. Kutanyakan pula kepadamu, adakah orang lain sebelum dia yang mengaku sebagai Nabi seperti dia? Jawabmu 'tidak', seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini hanya meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Ini adalah sifat Nabi.

Lalu Heraclius berkata, "Jika yang kamu katakan itu semua benar, maka tak salah lagi bahwa lelaki tersebut adalah seorang Nabi, aku tahu bahwa dia akan diutus, tapi aku tidak menyangka bahwa dia dari (bangsa) kalian, sekiranya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya maka sungguh aku akan membasuh kedua kakinya (sebagai bentuk penghormatan). Kelak daerah kekuasaannya hingga ke kerajaan yang ada di bawah kakiku ini."

Abu Sufyan berkata, "Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para penguasa Negeri Bashrah. Maka diberikannya surat itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius penguasa Rumawi, Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam, masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu berlipat ganda. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak akan menyembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (QS. Ali Imran: 64)."

Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, hingga mereka memerintahkan kami keluar. Sesampainya di luar, aku berkata kepada kawan-kawanku; "Sungguh luar biasa urusan Ibnu Abu Kabsyah (maksudnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) telah menjadikan ia ditakuti oleh raja-raja Bani Al Ashfar (bangsa berkulit kuning), Heraclius mengkhawatirkan kerajaan Rumawi." Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam.

Dan adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius, adalah seorang uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari keadaanmu". Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut dibunuh." Ketika itu dihadapkan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai diperiksa, ternyata memang dia berkhitan. Lalu diberitahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, dikhitankah mereka ataukah tidak?" Dia menjawab; "Orang Arab itu dikhitan semuanya." Heraclius berkata; "Inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraclius (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata; "Wahai bangsa Rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi putus harapan bahwa mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Lalu diperintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata; "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Demikianlah akhir kisah Heraclius.

Kisah ini menjadi salah satu bukti kebenaran firman Allah, "Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. Al Baqarah: 146).
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (QS. Al An’am: 20). 

Sumber: 
Musnad Ahmad, versi Al Alamiyah no. 2252, Kitab “Dari Musnad Bani Hasyim” 
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub berkata; telah menceritakan kepada kami putera saudaraku Ibnu Syihab dari pamannya yakni Muhammad bin Muslim, berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkannya dari Abu Sufyan bin Harb.
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih bin Kaisan, ia berkata; Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat, dan ia menyebutkan hadits di atas.
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma'mar, lalu menyebutkan hadits di atas.  

Shahih Bukhari, versi Al Alamiyah no. 6 (versi Fathul Bari no. 7), Kitab “Permulaan Wahyu”, Shahih menurut Ijma’ Ulama
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan kepadanya dari Abu Sufyan bin Harb.
Telah diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.

Shahih Muslim, versi Al Alamiyah no. 3322 (versi Syarh Shahih Muslim no. 1773), Kitab “Jihad dan Ekspedisi”, Shahih menurut Ijma’ Ulama
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali dan Ibnu Abu Umar serta Muhammad bin Rafi' dan Abd bin Humaid sedangkan lafadznya dari Ibnu Rafi', Ibnu Rafi' dan Ibnu Abu Umar mengatakan; telah menceritakan kepada kami, sedangkan yang dua mengatakan; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah dari Ibnu Abbas dari Abu Sufyan.
Telah menceritakan kepada kami Hasan Al Khulwani dan Abd bin Humaid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'd- telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih dari Ibnu Syihab dengan isnad ini.

Tuesday, March 20, 2012

TUHAN ITU MAHA ESA


Para ulama mengatakan Islam adalah berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan mentauhidkanNya, patuh kepadaNya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan bertauhid maksudnya adalah beribadah murni kepada Allah Ta'ala semata, tidak pada yang lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah Ta'ala, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah Ta'ala juga pada selainNya (menduakan Allah Ta'ala dalam ibadah), maka ia disebut musyrik. Yang berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata, itulah yang disebut muwahhid (ahli tauhid).

Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, namun orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah Ta'ala sebagai satu-satunya sesembahan. 
Allah Ta’ala berfirman, "...Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31).
Dalam ayat lain Allah Ta'ala berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang lurus dalam firmanNya, “Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40). 
Inilah yang disebut Islam. Sedangkan yang berbuat syirik dan inginnya melestarikan syirik atas nama tradisi, tentu saja tidak berprinsip seperti ajaran Islam yang dituntunkan.

Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah Allah Ta'ala dan menjauhi laranganNya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah Ta'ala itu diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal. Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah Ta'ala saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Jadi prinsip seorang Muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. 

Demikianlah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di mana Beliau 'alaihis salam dan orang-orang yang bersama Beliau 'alaihis salam (*) berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu...” (QS. Al Mumtahanah: 4). 
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berlepas diri dari orang musyrik dan sesembahan mereka.
Dalam ayat lain disebutkan pula, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 23).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia...” (QS. Al Mumtahanah: 1). 
Demikianlah pedoman agar menjadi Muslim sejati, yaitu bertauhid, melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.
Wallahu a'lam...

(*) Ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang bersama Beliau 'alaihis salam adalah para Nabi, ada juga  yang memaknai sebagai orang-orang yang beriman.