Thursday, November 10, 2016

Surat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Dari Abu Sufyan, ia berkata, pada saat berlangsungnya perjanjian damai antara aku dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku pergi berniaga ke negeri Syam. Ketika aku berada di sana, ada seseorang yang mengirim sepucuk surat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kaisar Heraclius, penguasa Rumawi, yang membawa surat itu adalah Dihyah Al Kalbi kepada pembesar Bushra, kemudian pembesar Bushra menyampaikannya kepada Heraclius.
Heraclius lantas bertanya, "Siapakah di antara kalian, yang dekat pertalian darahnya dengan orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi itu?"
Abu Sufyan berkata, "Lalu aku menjawab, "Aku." Lalu aku dipanggil untuk menghadap Heraclius bersama beberapa kawanku dari suku Quraisy, kami masuk dan duduk menghadap Heraclius. Lalu aku duduk di depan, sedangkan kawan-kawanku duduk di belakangku.

Kemudian dia memanggil penerjemahnya, lalu dia berkata kepada penerjemahnya, "Katakanlah kepada kawan-kawannya, bahwa aku menanyakan kepadanya perihal laki-laki yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi, jika dia berdusta, katakan dia telah berdusta."
Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, kalaulah aku tidak takut dicap sebagai pendusta, sungguh akan ku dustai mereka."
Kemudian Heraclius berkata kepada penerjemahnya, tanyakan kepadanya, "Apa hubunganmu dengannya?". Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; "Dia adalah anak pamanku."
Abu Suyfan berkata, "Tidak ada seorang pun yang ikut dalam kafilah saat itu, yang berasal dari Bani Abdu Manaf selain diriku."
Kemudian Heraclius bertanya, "Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian." Abu Sufyan berkata, "Jawabku, "Dia adalah orang yang mulia nasabnya (dari keturunan baik-baik)."
Dia bertanya, "Apakah dia keturunan raja?". Aku menjawab, "Tidak."
Dia bertanya, "Pernahkah kalian mendapatinya berdusta sebelum dia menyampaikan bahwa ia seorang Nabi?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apakah orang-orang yang mengikutinya dari kalangan pembesar ataukah hanya rakyat kecil?". Jawabku, "Bahkan yang mengikutinya hanya rakyat kecil."
Dia bertanya, "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?". Jawabku, "Mereka selalu bertambah."
Dia bertanya, "Adakah ada pengikutnya yang murtad karena benci terhadap agama yang dikembangkannya?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apakah kalian memeranginya?". Jawabku, "Ya."
Dia bertanya, "Bagaimana kesudahan peperanganmu terhadapnya?". Jawabku, "Peperangan kami berjalan silih berganti antara menang dan kalah. Kadang-kadang kamilah yang menang dan dia yang kalah, dan terkadang pula kami yang kalah dan dia yang menang."
Dia bertanya, "Apakah dia pernah ingkar janji?". Jawabku, "Tidak pernah, ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu, bahkan kami sedang dalam masa perjanjian damai, yaitu tidak akan serang menyerang dengannya. Aku tidak tahu apa yang akan dibuatnya terhadap perjanjian tersebut."
Kata Abu Sufyan selanjutnya, "Demi Allah, aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini."
Dia bertanya lagi, "Apakah ada orang lain sebelum dia, yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi seperti dia?". Jawabku, "Tidak."
Dia bertanya, "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?". Aku jawab, "Dia menyuruh kami 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kalian.' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan, menepati janji, menunaikan amanah, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim".

Kemudian dia berkata kepada penerjemahnya, "Katakan kepadanya, "Kutanyakan kepadamu tentang nasabnya (status sosialnya), maka kalian katakan dia termasuk dari bangsawan. Memang demikianlah halnya para Rasul, mereka diutus (dari keluarga) yang mempunyai nasab luhur di antara kaumnya. Kutanyakan pula kepadamu, apakah dia dari keturunan para raja? Jawabmu 'tidak', kalau sekiranya bapak dan kakeknya dari keturunan raja, tentu ada sangkaan orang ini hanya ingin mengembalikan kekuasaan nenek moyangnya. Kutanyakan pula tentang pengikutnya, apakah terdiri dari rakyat kecil atau dari orang-orang besar? Kamu menjawab 'hanya terdiri dari rakyat kecil', memang merekalah pengikut para Rasul. Aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak, sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Aku tanyakan kepadamu, adakah pengikutnya yang murtad atau mereka membenci agama baru setelah memeluknya? Jawabmu 'tidak', memang begitulah halnya apabila iman telah tertanam dalam hati seseorang. Aku bertanya kepadamu, apakah pengikutnya berkurang? Jawabmu 'bahkan mereka selalu bertambah', memang seperti itulah iman hingga ia tumbuh sempurna. Kutanya pula, apakah kamu memeranginya? Jawabmu 'ya kami memerangi, dan peperangan silih berganti, terkadang menang dan terkadang kalah'. Memang demikianlah halnya, para Rasul itu selalu mendapati berbagai ujian, namun demikian, kemenangan terakhir selalu dipihak mereka. Kutanyakan pula, pernahkah dia ingkar janji? Jawabmu 'tidak pernah', memang demikian para Rasul tidak mungkin ingkar janji. Kutanyakan pula kepadamu, adakah orang lain sebelum dia yang mengaku sebagai Nabi seperti dia? Jawabmu 'tidak', seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini hanya meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Ini adalah sifat Nabi.

Lalu Heraclius berkata, "Jika yang kamu katakan itu semua benar, maka tak salah lagi bahwa lelaki tersebut adalah seorang Nabi, aku tahu bahwa dia akan diutus, tapi aku tidak menyangka bahwa dia dari (bangsa) kalian, sekiranya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya maka sungguh aku akan membasuh kedua kakinya (sebagai bentuk penghormatan). Kelak daerah kekuasaannya hingga ke kerajaan yang ada di bawah kakiku ini."

Abu Sufyan berkata, "Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para penguasa Negeri Bashrah. Maka diberikannya surat itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius penguasa Rumawi, Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam, masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu berlipat ganda. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak akan menyembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (QS. Ali Imran: 64)."

Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, hingga mereka memerintahkan kami keluar. Sesampainya di luar, aku berkata kepada kawan-kawanku; "Sungguh luar biasa urusan Ibnu Abu Kabsyah (maksudnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) telah menjadikan ia ditakuti oleh raja-raja Bani Al Ashfar (bangsa berkulit kuning), Heraclius mengkhawatirkan kerajaan Rumawi." Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam.

Dan adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius, adalah seorang uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari keadaanmu". Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut dibunuh." Ketika itu dihadapkan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai diperiksa, ternyata memang dia berkhitan. Lalu diberitahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, dikhitankah mereka ataukah tidak?" Dia menjawab; "Orang Arab itu dikhitan semuanya." Heraclius berkata; "Inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraclius (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata; "Wahai bangsa Rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi putus harapan bahwa mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Lalu diperintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata; "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Demikianlah akhir kisah Heraclius.

Kisah ini menjadi salah satu bukti kebenaran firman Allah, "Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. Al Baqarah: 146).
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (QS. Al An’am: 20). 

Sumber: 
Musnad Ahmad, versi Al Alamiyah no. 2252, Kitab “Dari Musnad Bani Hasyim” 
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub berkata; telah menceritakan kepada kami putera saudaraku Ibnu Syihab dari pamannya yakni Muhammad bin Muslim, berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkannya dari Abu Sufyan bin Harb.
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih bin Kaisan, ia berkata; Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat, dan ia menyebutkan hadits di atas.
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma'mar, lalu menyebutkan hadits di atas.  

Shahih Bukhari, versi Al Alamiyah no. 6 (versi Fathul Bari no. 7), Kitab “Permulaan Wahyu”, Shahih menurut Ijma’ Ulama
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan kepadanya dari Abu Sufyan bin Harb.
Telah diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.

Shahih Muslim, versi Al Alamiyah no. 3322 (versi Syarh Shahih Muslim no. 1773), Kitab “Jihad dan Ekspedisi”, Shahih menurut Ijma’ Ulama
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali dan Ibnu Abu Umar serta Muhammad bin Rafi' dan Abd bin Humaid sedangkan lafadznya dari Ibnu Rafi', Ibnu Rafi' dan Ibnu Abu Umar mengatakan; telah menceritakan kepada kami, sedangkan yang dua mengatakan; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah dari Ibnu Abbas dari Abu Sufyan.
Telah menceritakan kepada kami Hasan Al Khulwani dan Abd bin Humaid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'd- telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih dari Ibnu Syihab dengan isnad ini.

Tuesday, March 20, 2012

TUHAN ITU MAHA ESA


Para ulama mengatakan Islam adalah berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan mentauhidkanNya, patuh kepadaNya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan bertauhid maksudnya adalah beribadah murni kepada Allah Ta'ala semata, tidak pada yang lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah Ta'ala, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah Ta'ala juga pada selainNya (menduakan Allah Ta'ala dalam ibadah), maka ia disebut musyrik. Yang berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata, itulah yang disebut muwahhid (ahli tauhid).

Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, namun orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah Ta'ala sebagai satu-satunya sesembahan. 
Allah Ta’ala berfirman, "...Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31).
Dalam ayat lain Allah Ta'ala berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang lurus dalam firmanNya, “Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40). 
Inilah yang disebut Islam. Sedangkan yang berbuat syirik dan inginnya melestarikan syirik atas nama tradisi, tentu saja tidak berprinsip seperti ajaran Islam yang dituntunkan.

Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah Allah Ta'ala dan menjauhi laranganNya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah Ta'ala itu diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal. Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah Ta'ala saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Jadi prinsip seorang Muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. 

Demikianlah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di mana Beliau 'alaihis salam dan orang-orang yang bersama Beliau 'alaihis salam (*) berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu...” (QS. Al Mumtahanah: 4). 
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berlepas diri dari orang musyrik dan sesembahan mereka.
Dalam ayat lain disebutkan pula, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 23).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia...” (QS. Al Mumtahanah: 1). 
Demikianlah pedoman agar menjadi Muslim sejati, yaitu bertauhid, melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.
Wallahu a'lam...

(*) Ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang bersama Beliau 'alaihis salam adalah para Nabi, ada juga  yang memaknai sebagai orang-orang yang beriman.

Monday, March 19, 2012

Ada Apa Denganmu?

Akhir-akhir ini aku sedang tidak mood melakukan apapun. Dari hal yang besar apalagi hal yang kecil. Hari-hari ku lewati dengan kerja, pulang, tidur, itu saja. Mengupdate status di fb atau twitter juga rasanya malas sekali. Banyak teman yang menanyakan menghilangnya aku dari dunia-dunia maya itu. Mereka bilang aku "ngelaba" ke tempat lain. Email pun jarang aku buka kecuali email kantor karena ini menyangkut pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Juga gtalk yang selau on agar bisa berkomunikasi dengan bosku.

Aku tahu pasti penyebab hilangnya moodku. Tidak bisa kuperjelas satu per satu disini karena memang aku tidak ingin banyak orang tahu. Bagiku cukup aku sendiri dan beberapa sahabat saja yang tahu. Tentunya setiap orang ingin memiliki privasi kan. Jangankan orang lain, keluargaku saja tidak tahu menahu tentang bad moodku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin mereka terbebani oleh masalahku. Oleh sebab itu setiap pulang ke rumah, darimanapun, selalu akan tampak wajah ceriaku. Tapi ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Tulus, karena memang nyaman sekali rasanya ketika berada di rumah, ditengah keluarga yang kita sayangi dan menyayangi kita. Karena keceriaan itu pula tidak ada orang di rumahku yang menangkap "sinyal jelekku".

Beberapa sahabatku pun tidak seratus persen kuceritakan tiap detail masalah yang kuhadapi. Inilah pilihanku. Dan aku merasa nyaman pun baik-baik saja dengan pilihanku. Terserah orang lain mau berkata apa aku tidak peduli. Yang penting aku melakukannya dengan cara terbaikku dan dengan tujuan yang terbaik pula. Yang penting aku tidak munafik, tidak bermuka dua apalagi dasa muka.

Mungkin ada seseorang yang merasa bingung dengan apa yang aku lakukan. Anggap saja ini sebuah pengorbananku. Meski sebenarnya aku tidak perlu berkorban apapun untuk seseorang yang tidak tahu apa arti sebuah pengorbanan. Tak mengapa. Beruntung aku memiliki ibu yang dengan sabar terus menerus mengingatkanku untuk selalu ikhlas dan memaafkan. Tanpa kau minta aku ikhlas menerima semua perlakuanmu. Tanpa kau ucapkan aku telah memaafkanmu. Namun perlu kutegaskan padamu, itulah hidupmu, dan inilah hidupku. Jadi jangan pernah lagi kau pertanyakan "ada apa denganmu?"